Ketoprofen termasuk dalam Obat Antiinflamasi Nonsteroid
(OAINS) turunan turunan asam fenilalkanoat yang
bekerja sebagai antiinflamasi, antipiretik, analgetik, dan secara luas
digunakan sebagai antireumatik (Hosny et al., 2013). Ketoprofen bekerja dengan
menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat memiliki efek analgesik,
antiinflamasi, dan antipiretik. Prostaglandin mempunyai dua isoform yaitu COX-1
dan COX-2, dimana COX-2 ekspresinya meningkat pada keadaan inflamasi sedangkan
COX-1 bertindak mempertahankan mukosa lambung dan trombosit dalam keadaan utuh.
Ketoprofen merupakan OAINS yang tidak selektif sehingga dapat menghambat kedua
isoform sehingga tidak hanya memberikan efek analgesik antiinflamasi tetapi
efek samping terhadap gastrointestinal juga meningkat. Ketoprofen dengan
pemberian secara peroral mempunyai efek terhadap gastrointestinal baik secara
langsung karena obat ini bersifat asam maupun secara sistemik yang menghambat
sekresi mukus, bikarbonat, dan prostaglandin. Efek samping penggunaan OAINS pada
gastrointestinal terbanyak berturut-turut adalah perdarahan saluran cerna
bagian atas, ulkus atau perforasi dan obstruksi serta dispepsia (Anonim, 2014). Cara untuk mengatasi kelemahan
ketoprofen dengan pemberian secara oral ialah dengan memberikan obat melalui
rektal. Pemberian secara rektal juga ditujukan sesuai dengan indikasinya.
Tujuan mencapai terapi yang optimal tidak hanya dengan pemilihan obat yang
tepat, tetapi juga dipengaruhi cara pemberian obat yang efektif.
Sumber : Farmakope Indonesia Edisi V
Gambar
3. Struktur Ketoprofen
Berdasarkan daftar obat esensial nasional (DOEN) tahun 2008
ketoprofen supositoria dengan dosis 100 mg digunakan pada pasien pasca operasi
yang belum bisa menerima pemberian obat secara oral dan tidak mengiritasi
lambung. Ketoprofen supositoria merupakan obat usulan untuk menggantikan
metampiron injeksi i.m 250 mg/ml dengan alasan keamanan. Metampiron dalam
bentuk injeksi memiliki efek samping dapat menyebabkan syok anafilaksis.
Efek samping yang
dapat ditimbulkan oleh ketoprofen adalah:
1.
Gejala GI (dispepsia)
2.
Gelisah
3.
Mual
4.
Diare
5.
Toksisitas kardiovaskular (nyeri dada,
dyspnea, lemas, sulit berbicara)
6.
Disfungsi hati yang
7. Anafilaktoid (misalnya sulit bernapas,
bengkak pada wajah atau tenggorokan)
8.
reaksi fotosensitifitas (topikal).
9.
Anafilaksis
10. Dermatitis
eksfoliatif
11. Sindrom
Stevens-Johnson
12. Nekrolisis
epidermal toksik
Daftar Pustaka
Anonim, 2014. Penggunaan Obat Antiinflamasi Non Steroid.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Jakarta
Anonim, 2014. Farmakope Indonesia, Edisi V. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Amonim, 2017.
Ketoprofen. (http://mims.com/indonesia/drug/info/ketoprofen/?type=brief&mtype=generic
diakses pada 12 Oktober 2017)
Hosny, M. K,
Rambo, M. S, Al-Zahrani, M. M., Al-Subhi, M.S., and Fahmu,U.a. 2013. Ketoprofen
Emlgel: Preparation, Characterization, and Pharmacodynamic Evaluation. International journal of Pharmaceutical
Sciences Review and Researc.h 20 (2):306-301
Pertanyaan
1.
Ketoprofen memiliki berbagai jenis
sediaan,menurut anda bentuk sediaan apa yang paling tepat untuk memformulasikan
ketoprofen?
2.
Ketoptofen diangap lebih aman
dibandingkan metampiron karena dapat menghindari ES anafilaksis, namun dalam
ketoprofen memiliki ES fatal anafilaksis,menurut anda apakah pengusulan
ketoprofen sebagai penganti metampiron cukup efektif?
3.
Sebagai seorang farmasis solusi apa
yang dapat anda tawarkan untuk menghindari atau menangani ES yang timbul dari
ketoprofen?

selamat malam, apakah obat ini aman di gunakan utk ibu hamil? jika tidak mohon di jelaskan
BalasHapusSelamat malam ana,untuk penggunaan selama masa kehamilan tidak ada obat yang benar-benar aman karena obat bukan hanya berpengaruh pada ibu tetapi juga pada pertumbuhan janin. Berdasarkan tingkat keamanan pengunaan obat pada wanita hamil menurut FDA ada 5 katagori,yaitu katagori A,B,C,D dan X.
HapusUntuk ketoprofen sendiri dalam bentuk sediaan oral termasuk dalam katagori B (belum ditemukan resiko pada manusia,tetapi uji yang dilakukan pada hewan tidak menunjukan adanya efek merugikan,meskipun begitu perlu dilakukan uji lebih lanjut untuk mengetahui efek yang ditimbulkan bagi manusia karena enelitian yang dilakukan belu memadai) pada trisemeater ke 2(usia kehamilan 4-6 bulan) ketoprofen masuk dalam katagori D (terbukti adanyaresiko pada janin baik melalui penelitian atau post-marketing study.
Dalam bentuk sediaan topikal ketoprofen pada ibu hamil termasuk katagori C (yaitu adanya resiko yang tidak dapat dikesampingkan,penelitian ada manusia yang tidak memadai dan penelitian pada hewan menunjukan resiko)
Jadi obat ini tidak bisa dikatakan cukup aman untuk digunakan oleh ibu hamil terlebih bila usia kandungan telah memasuki trisemster 2
Hai winda
BalasHapusDikatakan ketoprofen bersifat asam. Apamah dapat mengiritasi lambing? Jika iya dapatkah di kombinasikan dengan obat lambung/maag?
ya sindi,selain bersifat asam ketoprofen juga menghambat sekresi mukus sehingga untuk mengatasinya dapat dikombinasikan dengan obat lambung
HapusHai winda apakah obat ini ada interaksi dengan obat lainnya ? Kalau ada berikan contoh obatnya ya
BalasHapusTerima kasih
Hai Oktaria,ketoprofen memilik inetaksi dengan obat lainya,antara laun sebagai berikut:
HapusKetoptofen – ACE inhibitor & Antagonis angiostensin 2 Mengurangi efek antihipertensi
Ketoptofen – Warfarin Peningkatan risiko pendarahan GI
Ketoptofen – Aspirin dan NSAID lainya Mengurangi pengikatan protein ketoprofen dan meningkatkan risiko kejadian GI serius
Ketoptofen – Diuretik Peningkatan risiko pengembangan gagal ginjal
Ketoptofen – Kortikosteroid Peningkatan risiko pengembangan gagal ginjal
Ketoptofen – Salisilat mengurangi konjugasi dan eliminasi ketoprofen ginjal
menurut saya ketoprofen lebih bagus dalam bentuk Kapsul Lepas Lambat
BalasHapusuntuk mengurangi efek sampingnya sebaiknya dikurangi saja frekuensi penggunaan obat ini yang sudah dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu atau semisal tetap mengharuskan menggunakan obat ini seperti efek samping yang akan ditimbulkan yaitu mual maka gunakan obat ini sebelum makan
BalasHapuseh setelah makan maksudnya jadinya lambung tidak kosong
HapusSaya akan menjawab pertanyaan no. 1
BalasHapusKalau menurut saya tergantung dari kebutuhan dan kondisi pasien. Jika diinginkan efek yg cpt maka bisa menggunakan injeksi atau suppositoria
saya sependapat dengan nurul, sediaan tergantung pada kebutuhan pasien. sediaan yg ada di pasaran yaitu :
HapusKapsul Lepas Lambat 200 mg,
Tablet 12,5 mg, 50 mg, 100 mg
Parenteral/Injeksi Ampul 100 mg / 2 ml,
Supositoria 100 mg
Topikal
3. Jika Anda menggunakan produk ketoprofen nonresep, baca semua aturan pada kemasan sebelum menggunakan obat. Jika dokter memberikan obat ini, baca lembar Petunjuk Obat yang disediakan apoteker sebelum menggunakan Ketoprofen dan setiap Anda mengisi ulang. Jika Anda memiliki pertanyaan, tanyakan pada dokter atau apoteker.
BalasHapusMinumlah obat, biasanya 3-4 kali sehari dengan segelas air (240mL) atau sesuai anjuran dokter. Jangan berbaring selama minimal 10 menit setelah meminum obat. Jika Anda mengalami sakit perut saat menggunakan obat ini, gunakan dengan makanan, susu atau antasida.
Dosis obat ini berdasarkan kondisi kesehatan dan respon terapi Anda. Untuk menurunkan risiko perdarahan lambung dan efek samping lain, gunakan dosis obat efektif paling rendah sesingkat mungkin. Jangan meningkatkan dosis atau menggunakannya lebih sering dari yang dianjurkan dokter. Jangan menggunakan obat nonresep lebih dari 10 hari kecuali jika dianjurkan. Untuk kondisi lain seperti artritis (radang sendi), lanjutkan penggunaan obat ini sesuai anjuran dokter. Diskusikan potensi risiko dan manfaat dengan dokter atau apoteker.
Jika Anda menggunakan obat ini “bila dibutuhkan” (bukan jadwal teratur), ingatlah bahwa obat nyeri bekerja dengan baik jika digunakan saat awal nyeri dirasakan. Jika Anda menunggu hingga nyeri memburuk, obat mungkin tidak bekerja dengan baik.
Jika Anda menggunakan obat ini untuk sakit kepala sebelah (migrain) dan nyeri tidak berkurang, atau jika memburuk setelah dosis pertama, beritahukan dokter segera.
Untuk kondisi tertentu (seperti artritis), penggunaan obat membutuhkan waktu hingga 2 minggu secara teratur hingga merasakan manfaatnya.
Jika kondisi Anda menetap atau memburuk, atau jika Anda berpikir Anda memiliki masalah kesehatan serius, segera cari bantuan medis.
Ikuti aturan yang diberikan oleh dokter atau apoteker sebelum memulai pengobatan. Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter atau apoteker Anda.